Selasa, 01 April 2014

pariwisata dan globalisasi.



mengkritisi film dokumenter tahun 1932-an.  http://www.youtube.com/watch?v=fjHdPwAzgE8

 
Pariwisata dan globalisasi, menilik kembali dari istilah globalisasi, ternyata pariwisata adalah hal yang tidak asing dalam pembahasannya. Dalam film dokumenter yang menunjukkan perjalanan sharlie caplin di jawa dan bali pada tahun 1932, telah membuka bahwa pariwisata adalah komoditas sejak jaman kolonialisme. Pariwisata adalah hal yang telah mendunia atau mengglobal.
Jika boleh dihubungkan dengan masa sekarang ini, khususnya Bali, tentu ada suatu keterhubungan yang kental sekali mengenai kehidupan pariwisata global tersebut. Masyarakat mulai mengenal orang asing sejak itu, akan tetapi berbeda dengan wilayah lain (apabila dilihat dari tahunnya) seakan-akan memang bali telah diisolasi dari suatu perkembangan peradaban. Sangat jelas dengan banyaknya warga lokal yang masih telanjang dada.
Kegiatan pariwisata tersebut merupakan suatu titik tolak yang dapat menerangkan pergeseran nilai kebudayaan yang sakral menjadi profan. Dalam perkembangannya upacara-upacara adat tidak lagi digunakan untuk memuja dan mengagungkan dewa-dewa. Akan tetapi untuk melayani para tamu sebagai atraksi kebudayaan. Dalam kegiatan pariwisata, tentunya dikenal yang namanya guest dan host. Guest adalah wisatawan dan host adalah penyedia bisa pula warga lokal. Akan tetapi dari film tersebut sempat terlhat adanya bendera Belanda, yang artinya host disini bukanlah warga lokal, akan tetapi pihak hindia belanda. Sedangkan warga lokal adalah komoditi yang diperjual belikan antara host dengan guest.
Jika dipertanyakan, apakah warga tahu akan dirinya yang hanya sebagai komoditas atau atraksi yang “dinikmati” oleh wisatawan? Kurasa antara iya atau tidak……………dilihat dari cara membawa bendera dan berinteraksi dengan para wisatawan ada sesuatu yang bertolak belakang. Bendera memperlihatkan kesediaan untuk melakukan atraksi, dan interaksi yang menunjukkan bahwa itu adalah suatu kunjungan yang harus diterima dan dijamu layaknya kepada tamu. Memang, sebenarnya pada dasarnya wisatawan yang pergi ke nusantara adalah tertarik dengan sikap atau sifat keramah-tamahan warga lokal suatu daerah.

#istilah guest and host sebenarnya diambil dari buku michel picard.